TANGERANG — Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) musim penghujan berlangsung mulai dari November 2025 hingga Februari 2026 mendatang.
Dimana hingga oktober lalu, sebanyak 43,9 persen wilayah Indonesia atau setara 306 Zona Musim (ZOM) telah resmi memasuki musim hujan. Peralihan ini pun disebut memiliki konsekuensi meningkatnya potensi cuaca ekstrem di berbagai daerah, mulai dari hujan lebat, angin kencang, hingga ancaman siklon tropis dari arah selatan Indonesia.
Berdasarkan data BMKG yang dirilis pada 10 November 2025, wilayah Banten memiliki varian tipe potensi banjir mulai dari potensi tinggi, potensi sedang hingga potensi rendah.
Sejumlah kecamatan di wilayah Kabupaten Tangerang pun tidak luput dari potensi banjir selama musim penghujan ini. Dimana total 14 kecamatan masuk daftar berpotensi banjir berdasarkan data BMKG.
Untuk di wilayah Banten sendiri, BMKG merilis daftar sebagai berikut, diantaranya wilayah Pandeglang yang ditandai warna merah dengan potensi rawan banjir tinggi, meliputi Kecamatan Carita, Cibaliung, Cibitung, Cigeulis, Cikedal, Jiput, Labuan, Mandalawangi, Menes, Panimbang, Sobang dan Sumur.
Sementara itu dengan potensi rawan banjir sedang diantaranya meliputi sebagian wilayah Lebak, Pandeglang serta Kabupaten Serang.
Untuk potensi rawan banjir dengan tingkatan rendah meliputi sebagian Kota Cilegon, Kota Serang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Lebak, Pandeglang, Kabupaten Serang.
Termasuk wilayah Kabupaten Tangerang yang meliputi 14 Kecamatan, diataranya Kecamatan Balaraja, Kecamatan Curug, Cikupa, Jayanti, Jambe, Cisoka, Kelapa Dua, Legok, Panongan, Pasar Kemis, Sindang Jaya, Solear, Sukamulya serta Kecamatan Tigaraksa.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menegaskan bahwa hujan kini mulai meluas dari wilayah barat menuju timur Indonesia dan akan terus meningkat intensitasnya dalam beberapa pekan mendatang.
“Kita sedang memasuki periode transisi menuju puncak musim hujan. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai angin kencang dan petir, terutama di wilayah selatan Indonesia yang mulai terpengaruh sistem siklon tropis dari Samudra Hindia,” ujarnya dalam Konferensi Pers di Jakarta, Sabtu, 1 November 2025.
Dirinya menuturkan bahwa cuaca terik yang masih terjadi di beberapa wilayah juga memerlukan perhatian, dengan menjaga asupan cairan tubuh dan menggunakan pelindung kulit.
Selain itu, tambah dia, kesiapsiagaan terhadap potensi banjir, banjir bandang, dan tanah longsor perlu terus ditingkatkan, terutama di wilayah dengan topografi curam dan daerah aliran sungai.
“Apabila dapat dimitigasi dengan tepat, maka musim hujan dan puncak musim hujan yang diprediksi akan lebih panjang dari normalnya ini, akan menjadi bermanfaat bagi pertanian dan untuk mendukung ketahanan pangan,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan