TANGERANG — Bumi Perkemahan Cisoka menjadi saksi kemeriahan pertunjukan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratarsik) bertajuk “Samagra Babad Cisoka”. Acara kebudayaan yang mengangkat sejarah dan warisan lokal ini sukses menyedot perhatian sekitar 500 penonton lintas generasi, mulai dari pelajar, pemuda, hingga masyarakat umum.
Pertunjukan yang mengombinasikan narasi sejarah dengan estetika seni panggung ini mendapat apresiasi khusus dari tokoh muda Cisoka, Anugrah Dwi Sandi. Ia menekankan pentingnya ruang bagi seni dan budaya lokal agar tetap lestari di tengah perubahan zaman.
“Kegiatan seni yang mengangkat sejarah daerah memiliki arti penting dalam memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal, sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal warisan sejarah di lingkungannya,” ujar Anugrah.
Menurut Anugrah, pementasan ini menempatkan pertunjukan seni bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sarana edukasi dan penguatan identitas masyarakat. Melalui pendekatan kreatif, sejarah daerah diperkenalkan secara relevan kepada generasi muda.
Para pemeran tampil memukau dengan kostum yang disesuaikan dengan karakter masing-masing, didukung tata cahaya dramatis serta visual latar yang menghidupkan suasana Babad Cisoka. Kehadiran para pelajar dari sejumlah sekolah di Cisoka turut memberikan dimensi edukatif di luar ruang kelas.
Meski demikian, penguatan literasi sejarah melalui pementasan seni dinilai perlu terus didukung rujukan sejarah yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, terutama dalam menggambarkan sosok tokoh, peristiwa, dan latar sejarah.
Kolaborasi Kolektif Pekerja Seni Lokal
Keberhasilan Sendratarsik “Samagra Babad Cisoka” merupakan hasil kerja kolektif lintas disiplin para pekerja seni. Pertunjukan ini diinisiasi melalui kolaborasi erat antara Artura, Teater Bahtera, serta mitra seni lainnya.
Adapun tim produksi dan pemeran yang terlibat di antaranya:
- Sutradara: Rizka Puspitasari
- Penulis Naskah & Koreografer: Irham Mulyana
- Dramaturg: Badrussalam
- Komposer Musik: Makhroji
Pemeran Utama:
- Ikbal Aulia Rahman (Syekh Mas Mas’ad)
- Badrussalam (Syekh Mubarok)
- Irvan Saputra Lubis (Sultan Maulana Yusuf)
- Muhammad Alviansyah (Ki Daeng)
- Haikal Fahmi (Raja Pajajaran)
- Dias Eka Kusuma (Ki Buyut Seteng)
- Aldi Firmansyah (Ki Mas Laeng)
- Muhammad Ryan (Penjaga Perbatasan)
Momentum Pelestarian Budaya Berkelanjutan
Anugrah berharap “Samagra Babad Cisoka” menjadi momentum untuk memperluas ruang kolaborasi pelestarian budaya di Kabupaten Tangerang, khususnya wilayah Cisoka.
“Harapan saya, kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan mendapatkan ruang yang lebih luas. Kita ingin generasi muda tidak hanya mengenal perkembangan teknologi dan budaya modern, tetapi juga memahami sejarah serta identitas daerahnya sendiri. Jika pemerintah, komunitas, dunia pendidikan, dan masyarakat berjalan bersama, saya optimistis upaya pelestarian budaya akan memiliki fondasi yang lebih kuat,” tuturnya.
Ke depan, keberlanjutan pelestarian budaya membutuhkan langkah terencana, mulai dari penguatan komunitas seni, regenerasi pelaku budaya, pendokumentasian sejarah yang akurat, hingga penyelenggaraan kegiatan secara konsisten dan berkesinambungan.






Tinggalkan Balasan